Kontraktor Kubah Masjid Enamel di Tanjung Selor Kalimantan Utara

Kontraktor Kubah Masjid Enamel di Tanjung Selor Kalimantan Utara

Kontraktor Kubah Masjid Enamel di Tanjung Selor Kalimantan Utara

Pulang kerja hingga larut malam sudah biasa saya rasakan selama karir saya bekerja. Rasa lelah yang menyelimuti diri tak pernah bosan menemai perjalanan pulang saya menuju ke rumah untuk membaringkan diri. Seperti biasa saya selalu pulang dengan menggunakan kendaraan umum yang masih lewat dipinggir jalan.
Di pojok jalan pas di pertigaan tampak seseorang yang tengah berdiri di bawah lampu penerangan jalan. Seseorang yang mempunyai badan berperawakan sedikit kurus serta tinggi sekitaran seratus enam puluh lima sentimeter berdiri tegak. Seolah-olah dia tengah mencari suatu hal ditempat itu. Dianya menggunakan topi bundar. Dengan rasa penasaran saya mendekatinya, nyatanya dia membawa satu buku. Sesudah saya bertanya buku itu ada tulisan belajar jadi Kontraktor Kubah Masjid Enamel di Tanjung Selor. Beberapa orang berlalu lalang disebelahnya yang lihat orang itu. Walau kenakan pakaian menggunakan kaos oblong warna biru tua serta menggunakan celana jens panjang dengan membawa jaket tidak tipis yang disampirkan di tangan kanannya sembari membawa bukunya. Pria itu juga menggunakan sepatu pantovel berwarna hitam.
Dengan sedikit rasa takut, saya membulatkan tekad ajukan pertanyaan juga akan kemana dianya. Sesudah saya bertanya nyatanya dia mencari warung kopi yang diingatnya ada di pojok jalan itu. Secara cepat saya tahu arti dari pria itu. Memanglah dulu ada satu warung di pojok jalan situ. Warung itu seringkali dikenal dengan warung mbok pengkolan. Karna tempatnya yang ada di pertigaan jalan serta yang jual yaitu seseorang wanita separuh baya. Penjual warung itu juga bila jualan memakai pakaian seperti kebayak serta memakai jarik dan rambutnya di ikat satu di belakang. Warung itu jual beragam jenis minuman hangat serta dingin. Tetapi, warung ini saat ini telah tak ada sekali lagi karna mbok pengkolan ini telah tua serta tidak mampu berjualan sekali lagi. Mbok pengkolan ini di bawa kerumah anaknya seseorang kontraktor kubah Masjid Enamel karna sakit kencing manis serta tidak dapat jalan. Pada akhirnya warung itu reyot serta saat ini telah dibikin bersih oleh yang miliki tanah. Dulu mbok pengkolan ini tempat tinggalnya dekat dengan tempat tinggal saya sekitaran satu 1/2 kilo mtr. saja. Walhasil tempat tinggal itu telah sekitaran enam bulan tempo hari terjual. Pembelinya juga rekan dari anaknya yang bekerja jadi kontraktor kubah Masjid Enamel itu.
Pria ini serontak bertanya di mana tempat tinggal dari anak mbok pengkolan itu. Pria itu mengakui sebelumnya ia jadi seseorang kontraktor kubah Masjid Enamel di Tanjung Selor, setiap saat melalui jalan inilah singgah ke warung mbok pengkolan ini. Waktu itu dia masih tetap bekerja jadi kuli bangunan dengan upah yang cocok buat makan serta kontrak sekamar tempat tinggal untunya dia menginap. Dia singgah ke warung itu mengakui nyaris sehari-hari karna dia mengutang kopi di mbok pengkolan ini. Sesudah saya jadi seperti sekarang ini pria ini menginginkan menyaur hutang yang tak tahu berapakah puluh juta bila di kruskan dengan uang. Dari narasi ini saya tahu arti dari pria yang tengah mencari mbok pengkolan ini. sesudah saya memberitahu bila anaknya bernama Saidah seseorang kontraktor kubah Masjid Enamel juga. Pria ini segera teringat rekannya serta meninggalkan desa saya.

Posted in Masjid